jump to navigation

Inilah Alasan Muhammadiyah Menggunakan Sistem Hisab Dalam Penetapan Awal Bulan Qomariyah 17 Juli 2012

Posted by Abdi Suhamdi in Umum.
Tags: , , , , ,
trackback

image

Argumen Muhammadiyah dalam berpegang kepada Hisab seperti yang disampaikan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. berikut:

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi,

tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS. Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab, mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az-Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi Saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang.kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qardawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajat dan di bawah lintang selatan 60 derajat adalah kawasan tidak normal, dimana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melebihi 24 jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijjah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras di seluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita memegangi hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat.
Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.”

Mengapa Muhammadiyah memakai sistem hisab ?
Prinsip yang selalu dianut oleh persyarikatan Muhammadiyah adalah setia mengikuti perkembangan zaman kemajuan sains dan teknologi yang menyelaraskan dengan hukum hukum Islam.

Inilah yang dikenal sebagai tarjih dan pemikiran. Apalagi masalah keumatan khususnya dalam penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal, para ahli hisab Muhammadiyah yang tergabung dalam Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan pendapatnya kemudian dituangkan dalam surat keputusan pimpinan pusat Muhammadiyah tentang penetapan awal Ramadhan dan Syawal.

Hukum yang ditetapkan Muhammadiyah harus berangkat dari dalil Naqli Al-Qur’an dan As Sunah Shahihah dan dari acuan pokok tersebut dikembangkan berdasarkan kaedah Ushul Fiqh.

Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan menggunakan sistem hisab hakiki wujudul hilalartinya memperhitungkan adanya hilal pada saat matahari terbenam dan dengan dasar Al-Qur’an Surah Yunus ayat 5 di atas dan Hadis Nabi tentang ru’yah riwayat Bukhari. Memahami hadis tersebut secara taabudi atau gairu ma’qul ma’na/tidak dapat dirasionalkan, tidak dapat diperluas dan dikembangkan sehingga ru’yah hanya dengan mata telanjang tidak boleh pakai kacamata dan teropong dan alat alat lainnya, hal ini terasa kaku dan sulit direalisasikan. Apalagi daerah tropis yang selalu berawan ketika sore menjelang magrib, jangankan bulan, matahari pun tidak kelihatan sehingga ru’yah mengalami gagal total.

Hadis tersebut kalau diartikan dengan Ta’qul ma’naartinya dapat dirasionalkan maka ru’yah dapat diperluas, dikembangkan melihat bulan tidak terbatas hanya dengan mata telanjang tetapi termasuk semua sarana alat ilmu pengetahuan, astronomi, hisab dan sebagainya. Sebaliknya dengan memahami bahwa hadis ru’yah itu ta’aquli ma’na maka hadis tersebut akan terjaga dan terjamin relevansinya sampai hari ini, bahkan sampai akhir zaman nanti. Berlainan dengan masalah ibadahnya seperti shalat hari raya, itu tidak dapat dirasionalkan apalagi dikompromikan karena ketentuan tersebut sudah baku dari sunnah Rasul.

Tetapi kalau menuju ke arah ibadah itu dapat diijtihadi, misalnya berangkat haji ke Mekkah silahkan dengan transportasi yang modern tetapi kalau dalam pelaksanaan hajinya sudah termasuk ibadah harus sesuai dengan sunnah Rasul. Dengan pemahaman semacam ini hukum Islam akan tetap up to date dan selalu tampil untuk menjawab tantangan zaman.

Dengan demikian maka Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan memakai sistem hisab berdasarkan wujudul hilal. Andaikata ketentuan hisab tersebut berbeda dengan pengumuman pemerintah apakah melanggar ketentuan pemerintah? atau dengan melanggar Al-qur’an surah Annisa ayat 59 “Athiullah wa athi’u ar rasul wa ulil amri minkum”. Muhammadiyah tidak melanggar ketentuan pemerintah dalam soal ketaatan beragama sebab pemerintah membuat pengumuman bahwa hari raya tanggal sekian dan bagi umat Islam yang merayakan hari raya berbeda berdasarkan keyakinannya, maka dipersilahkan dengan sama-sama menghormatinya. Jadi pemerintah sendiri sudah menyadari dan mengakomodir perbedaan tersebut. Demikian agar semua menjadi maklum.

Sumber : muhammadiyah.or.id

ABDI SUHAMDI’s Blog

Tidak menemukan artikel yang anda cari? KLIK disini :

").length > 0 || jQuery(".wpa script[src*='shareth.ru']").length > 0 || jQuery(".wpa iframe[src*='boomvideo.tv']").length > 0 || jQuery(".wpa iframe[src*='viewablemedia.net']").length > 0 || jQuery(".wpa .sharethrough-placement").length > 0 ) { jQuery( '.wpa' ).css( 'width', '400px' ); } setTimeout(function(){if(typeof GS_googleAddAdSenseService !== 'function'){new Image().src=document.location.protocol+"//pixel.wp.com/g.gif?v=wpcom-no-pv&x_noads=adblock&baba="+Math.random()}},100); } );

Komentar

1. Oyes - 17 Juli 2012

Mantab. Inilah bukti alqur’an dan alhadist cocok di segala jaman.

2. Kmto - 20 Juli 2012

Makin menguatkan keyakinan…

Zatrifay - 20 Juli 2012

hisab itu sama saja dg prediksi. jd utk lbh pasti harus dilihat melalui metode rukyah. jd pemerintah itu sangat bijak dg ikut saran dr NU yg lbh pasti tanpa di prediksi terlebih dahulu. Mendahului Kepastian dr ALLAH itu tdk baik.

SG Peduli - 20 Juli 2012

Mbok kalau membaca itu yang komplit mas jangan setengah2 jadi “mudeng” apa yang dimaksud !!!
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5).QS. Yunus (10) ayat 5 : bukan prediksi konyol yang anda pahami

Barit Baroroh - 7 Agustus 2012

Anda waktu akan shalat apa Rukyatul Hilal dulu ??? trus imsaknya bgm ???? Waaaah jadul banget alias out of date. Kapan majunya !!!! gak pakai kelender klau gitu. krn itu hasil hisab (prediksi – istiah anda). Ironis !!!!

3. Abdi suhamdi - 20 Juli 2012

Berarti jadwal imsyakiah yang dipakai kebanyak orang itu atau yg juga mungkin anda pakai juga prediksi dong. Untuk menentukan awal puasa harus rukyah melihat bulan lantas kenapa berbuka tidak menggunakan telescop melihat matahari benar2 tenggelam? Tetapi menggunakan jadwal dari hasil perhitungan yg disebut tadi dengan prediksi.

4. sri mulyati - 21 Juli 2012

thanks infonya

5. badri - 22 Juli 2012

siiiip

6. bandung - 23 Juli 2012

indahnya perbedaan yg disikapi dengan bijak….

7. Imam - 23 Juli 2012

Saya yakin bahwa Islam adalah agama yg mendukung teknologi dan ilmu pengetahuan…

8. nuh - 23 Juli 2012

muhamadiyah mengedepankan akal,menafsirkan ALQURAN serampangan,dan tidak mengikuti manhaj salafus sholih

9. nuh - 23 Juli 2012

bantahan ada di majalah AsySyariah.edisi 003.

10. ayu - 25 Juli 2012

Saya mah warga negara yang baik tinggal di indonesia jadi gimana pemerintah aja deh waktu puasa atau lebaran saya pasrahkan pada pemerintah

11. wong biasa - 25 Juli 2012

coba anda lihat di situs ini……….http://moonsighting.com/

12. yoi - 28 Juli 2012

e… emboh, ora mudheng

13. konyil - 28 Juli 2012

aku yo setuju, sing penting poso

14. sterie - 29 Juli 2012

Global Islamic Calendar……versi Sterie :-)

1. jika ketinggian hilal > 6* maka gunakan Imkanur Rukyat
2. jika ketinggian hilal < 6* maka gunakan Wujudul Hilal

pertimbangan:
1. menggunakan Imkanur Rukyat
a. “Berpuasalah kamu karena melihat dia [hilal] dan berbukalah kamu karena melihat dia [hilal].”

b. dengan derajat 6* lebih mendekati kreteria astronomi untuk bisa melihat hilal dengan jelas tanpa keraguan sehingga tidak menimbulkan polemik

2. menggunakan Wujudul Hilal
a. “Jika kamu melihat dia (hilal) maka berpuasalah kamu, dan jika kamu melihat dia (hilal) maka berbukalah, jika pandangan kamu terhalang mendung maka perkirakanlah.”

b. kreteria WH memastikan terlihatnya hilal muncul di 180* bujur barat meskipun belum terlihat di tempat lain sehingga lebih cocok dipakai untuk rukyat global atau kalender internasional

* gabungan 2 metode ini secara tidak langsung bisa digunakan untuk menentukan GIC (Global Islamic Calendar) dengan tidak meninggalkan rukyatul hilal yang menjadi syarat wajib bagi sebagian umat islam, sederhana dan bisa langsung diterapkan

adam - 11 Agustus 2012

a. “Berpuasalah kamu karena melihat dia [hilal] dan berbukalah kamu karena melihat dia [hilal].”
satu pertanyaan :’ Apakah setiap berbuka kita harus melihat hilal dulu ?, atau yang dimaksud berbukalah itu hari raya idul fitri ?. terus bagaimana dengan “ika pandangan kamu terhalang mendung maka perkirakanlah” , bukankah itu harus dengan hisab ?.
juga pada rukyat kemarin , bukankah sudah ada empat ustadz yg melihat hilal, dan sudah disumpah, kenapa tidak dipakai sebagai keputusan, dan harus voting ?, bagaimana dengan jaman nabi Muhammad SAW dahulu, yang mendadari satu sahabat yang menyatakan melihat hilal dan disumpah, maka langsung untuk mulai berpuasa , bukankah itu contoh yang nyata, di Indonesia kok tidak berlaku, lalu ikut ajaran yang mana ?

15. parto - 15 Agustus 2012

Ass Wr Wb, maaf ikut ber-argumen, setelah kita lihat tafsir QS 55:5 dan QS Yunus(10)ayat 5 disitu memang menerangkan matahari dan bulan beradar menurut hukum yang pasti, memang sangat cocok untuk membuat kalender tapi tidak ada syareat ini sebagai penentu awal puasa dan hari raya. Klau kita memahami hadis yg kurang lebih ” berpuasalah kamu kalau melihat hilal dan berharirayalahkalau melihat hilal dan jika hilal terlihat samar atau tertutup awan genapilah bulan sa’ban menjadi 30 hari” , ini yg saya fahami jelas-jelas sebagi syareat sebagai penentu, jadi penentuan awal puasa dan hari raya itu kita patokannya bulan, dan kalender, shalat, buka puasa itu patokannya matahari contoh mau buka lihat matahari , mau shalat subuh patokannya matahari, shalat asyar kita membadingkan bayangan sinar matahari ini semua ada sunnahnya jadi kita imnani ini semua, kalau kita tayamum pakai debu itu juga kita imani jangan mengarang-arang atau lain-lain jadi Qur’an dan Sunnah itu bisa dipakai sampai akhir jaman

Abdi suhamdi - 15 Agustus 2012

parto pada 15 Agustus 2012 pada 06:11

Ass Wr Wb, maaf ikut ber-argumen,
setelah kita lihat tafsir QS 55:5 dan QS Yunus
(10)ayat 5 disitu memang menerangkan
matahari dan bulan beradar menurut hukum
yang pasti, memang sangat cocok untuk
membuat kalender tapi tidak ada syareat ini
sebagai penentu awal puasa dan hari raya.
============================

Sepertinya apa yang anda katakan sangat bertentangan. anda katakan sangat cocok membuat kalender tapi kalender yang dibuat itu tidak dapat digunakan sebagai penentu awal ramadhan. Berarti kalendernya salah perhitungan sementara ayat diatas anda katakan sangat cocok sebagai dasar membuat perhitungan kalender secara tepat.

16. parto - 16 Agustus 2012

maaf , kayaknya dalam beberapa riwayat hadist yang menentukan awal puasa ,disana tidak menyinggung nyinggung tentang penanggalan , cuma dimana kita melihat hilal diperintahkan untuk berpuasa, sehingga seperti yg diriwayatkan Kuraib, bahwa Ummu Faddhl binti Al-Haris pernah mengutusnya ke Muawiyah r.a di Syam. Kuraib melihat hilal hari malam jum’at lalu berpuasa, dan setelah dimadinah dialod dgn Abdulah bin Abbas kalau dia hari sabtu berpuasa , padahal jarak madinah dengan syam kan dekat, start puasanya beda, jadi menurut kami hadist2 tsb kita disuruh puasa kalau melihat hilal di awal romadhon, bukan berarti melihat hilal tersebut untuk menentukan penanggalan. dan sabda Rasulullah Saw yg lain, “Susungguhnya Allah membentangkan bulan agar bisa dilihat, maka mulailah hitungan pada malam kamu melihat.’ jadi disini sejak jaman Rasul setart puasa itu beda2 tergantung letak /posisi dimana dia berada tetapi penanggalan tetap sama

17. ahmad gifari - 20 September 2012

… Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dantidak bisa melakukan hisab… . Kalimat ini jangan dimaknai/diartikan secara logat/leterlek sehingga menganggap nabi Muhammad sebagai “manusia bodoh” yang tidak mampu menafsirkan Al-Qur’an Surah Yunus ayat 5.

Sebenarnya saat itu banyak di antara ummat islam yang sangat memahami ilmu falaq, salah satunya adalah Muhammad SAW. Namun dengan petunjuk dan bimbingan Alloh sebagai “manusia pilihan” beliau memberikan contoh “ru’yat” untuk menentukan awal dan/atau akhir bulan qomariah (ingat!, beliau bukan manusia bodoh), insya Alloh beliau akan mampu memprediksi segala kemungkinan dalam pelaksanaan syariat islam hingga hari qiamat. Satu hal yang tidak boleh dilupakan bahwa yang menggunakan ru’yat itu pasti menggunakan hisab. Jadi rukyat itu difungsikan untuk memastikan hitungan / hisab yang telah dilakukan.

Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa … jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi…. hebat banget berani melakukan “nasikh dan mansukh” terhadap hadits tentang ru’yat (HR. Bukhori dan Muslim)

Jika nabi Muhammad mengisyaratkan melakukan hisab untuk menentukan awal atau akhir bulan, mengapa tidak ada “nasikh dan mansukh” untuk perintah “ru’yat”

Muhammadiyah membid’ahkan “ijma dan qiyas para ulama”, sekarang kok mengkultuskan dan taqlid kepada Rasyid Ridha, Mustafa AzZarqa, Yusuf Al Qaradawi, Muhammad Syakir.

Metode hisab sah-sah saja untuk membuat kalender qomariyah, tetapi bukan untuk menyingkirkan hadits dan contoh rosululloh SAW dalam menentukan awal dan akhir bulan khususnya bulan romadlon dan dzulhijjah.

… mohon jangan menyesatkan ummat karena ambisi pribadi yang bersembunyi di balik organisasi.


Sorry comments are closed for this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.384 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: